Pagi itu, Minggu 21 November 2010, langit Jakarta memancarkan kehangatan yang pas untuk sebuah perjumpaan. Di tengah kepungan libur akhir pekan, anggota pegiat jalan-jalan yang tergabung dalam komunitas Backpacker's Indonesia berkumpul menyatu dalam sebuah hajat bertajuk Gathering Backpacker's Indonesia. Tak perlu melangkah terlalu jauh ke ceruk-ceruk terpencil Nusantara atau melintas batas negara, pilihan lokasi gathering kali ini justru berada tepat di jantung ibu kota: kawasan bersejarah Wisata Kota Tua Jakarta Pusat.

Ada ironi manis di balik pemilihan lokasi ini. Banyak di antara para pengembara rimba dan penjelajah samudera ini telah menginjakkan kaki di gugusan pulau terluar Indonesia, bahkan melintasi benua-benua jauh. Namun, kawasan Kota Tua Jakarta—jantung peradaban yang dahulu menjadi pusat kekuasaan megah bernama Batavia pada masa Hindia Belanda—justru kerap terlewatkan dalam daftar perjalanan mereka. Gathering ini pun menjelma menjadi momentum sempurna untuk 'pulang', merajut tali silaturahmi antar-anggotanya sembari menyapa kembali warisan sejarah yang berada di depan mata.

Titik Temu di Halaman Museum Fatahillah

Pelataran luas Museum Fatahillah—yang megah memancarkan arsitektur gaya Neoklasik abad ke-18 bekas balai kota (Stadhuis)—disepakati sebagai meeting point utama. Kendati jadwal awal direncanakan rapat pada pukul 09.00 WIB, ritme santai ala pelancong membuat rombongan baru dinyatakan berkumpul secara utuh pada pukul 10.00 WIB. Canda tawa, jabat tangan hangat, dan pelukan silaturahmi meluluhkan kecanggokan antar-anggota yang sebelumnya mungkin hanya bersua di balik layar forum maya.

Terkadang kita menjelajahi pelosok negeri hingga mancanegara, namun lupa menyapa remah-remah sejarah yang terhampar di tanah sendiri.

Roda Sepeda Onthel Menyusuri Sunda Kelapa

Agar penjelajahan terasa lebih mengalir dan menyatu dengan atmosfer masa lalu, rombongan memutuskan untuk memanfaatkan moda transportasi ikonik Kota Tua: sepeda onthel. Hanya dengan merogoh kocek Rp15.000,00 untuk durasi sewa selama satu jam lengkap dengan topi kondektur atau topi piring khas era kolonial, keceriaan gowes bersama pun dimulai.

Target destinasi pertama adalah Pelabuhan Sunda Kelapa. Rombongan mengayuh sepeda secara beriringan, melintasi lorong-lorong jalan beraspal yang diapit deretan gedung tua tinggi berarsitektur Eropa tempo dulu. Di balik deru riuh lalu lintas Jakarta yang padat, aroma khas air laut dan kayu lapuk pelan-pelan menyambut kedatangan kami di bibir dermaga bersejarah.

✦ Saksi Bisu Pelayaran Nusantara

Di sepanjang dermaga Pelabuhan Sunda Kelapa, berjejer rapi kapal-kapal kayu raksasa jenis Phinisi dengan lambung kayu jati yang megah. Kapal-kapal dagang tradisional ini menjadi bukti hidup ketangguhan maritim Indonesia yang hingga kini masih aktif mengangkut komoditas logistik antarpulau di seluruh pelosok Nusantara.

Menelusuri Lorong Maritim: Museum Bahari hingga Rumah Merah

Puas meresapi keanggunan dermaga kayu dan riak gelombang Sunda Kelapa, gowes nostalgia dilanjutkan menuju Museum Bahari. Bangunan tua berstruktur kayu jati tebal yang dahulu berfungsi sebagai gudang penyimpanan rempah-rempah milik kongsi perdagangan VOC (Westelijk Koopmansmagazijn) ini berdiri kokoh memancarkan wibawa sejarah kemaritiman.

Perjalanan berlanjut melintasi Jembatan Kota Intan—jembatan gantung kayu berwarna merah bata yang dibangun sejak era Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen pada abad ke-17. Jembatan unik bermekanisme ungkit ini menjadi salah satu sisa kebanggaan arsitektur tata air Batavia yang membelah Kali Besar.

Eksplorasi berlanjut menelusuri sudut-sudut eksotis bangunan bersejarah lainnya, termasuk Rumah Merah (Toko Merah) yang megah berdiri dengan fasad bata merah bergaya Barok Tionghoa-Eropa. Setiap jengkal batu bata dan jendela tinggi kayu tua seolah membisikkan dongeng-dongeng lama tentang intrik, perdagangan, dan dinamika kebudayaan kosmopolitan Jakarta zaman dulu.

Makan Siang Bersama dan Kehangatan Penutup

Rangkaian petualangan menyusuri jejak Batavia tua akhirnya bermuara kembali di pelataran Museum Fatahillah tepat pada jam makan siang. Rombongan beristirahat melepas lelah sembari menikmati sajian kuliner di sekitar pelataran museum. Momen makan siang bersama ini menjadi puncak kehangatan acara, di mana cerita perjalanan, tips backpacking, dan rencana petualangan masa depan saling dipertukarkan.

Seusai makan siang, sebagian peserta gathering—termasuk kami beserta keluarga—berpamitan untuk pulang lebih awal membawa kenangan manis. Sementara itu, beberapa kawan lainnya masih bersemangat melanjutkan eksplorasi mandiri, mengagumi sudut-sudut estetis Kota Tua yang tak pernah kehabisan daya pikat.

Gathering sederhana ini membuktikan bahwa sejauh apa pun seorang penjelajah melangkah, kehangatan persaudaraan dan pesona sejarah lokal selalu memiliki tempat istimewa untuk disinggahi.

• • •
M
Massaputro Delly TP
Penjelajah mandiri, penggiat literasi sejarah outdoor, dan penulis perjalanan yang aktif membagikan ulasan destinasi budaya, panduan eksplorasi, serta catatan naratif di Indonesia.
Culture Explorer Travel Writer