Fantasi Kota Medan: Cerita Kuliner Malam, Ikon Sejarah, dan Kehangatan Kota
Catatan penutup penjelajahan Sumatra Utara. Dari perjalanan panjang Danau Toba menuju Kota Medan, keagungan Masjid Raya Al Mashun, Istana Maimun, pedasnya Sate Padang khas Medan, perburuan Bika Ambon Zulaikha, hingga uniknya Nasi Penjara di RS Elizabeth.
Perjalanan darat meninggalkan Parapat di tepi Danau Toba menuju Kota Medan mengharuskan rombongan bersabar menembus padatnya lalu lintas akhir pekan. Jalur Lintas Sumatra yang sarat dengan truk truk logistik berukuran besar menuntut kehati-hatian ekstra. Setelah menempuh waktu sekitar enam jam perjalanan yang diselingi istirahat santap siang, bus rombongan akhirnya memasuki gerbang ibu kota Sumatra Utara menjelang senja hari.
Destinasi perdana yang kami tuju begitu tiba di Kota Medan sekitar pukul 17.00 WIB adalah Masjid Raya Al Mashun. Bangunan megah sarat nilai sejarah ini berdiri anggun menyapa setiap pengunjung. Dari kompleks masjid, perjalanan berlanjut menuju Istana Maimun. Mengingat jam operasional kunjungan bagian dalam istana telah tutup pada pukul lima sore, kami mengabadikan momen kebersamaan di pelataran halaman depan istana yang megah.
Sensasi Sate Padang Khas Medan dan Es Campur Segar
Di area halaman depan Masjid Raya Al Mashun, deretan pedagang kuliner lokal menjejaki pinggir jalan dengan aroma hidangan yang menggugah selera. Rasa penasaran mendorong saya untuk mencicipi Sate Padang khas Medan. Karakter sajian sate di kota ini memiliki perbedaan rasa yang sangat tegas dibanding sate padang yang biasa ditemui di Pulau Jawa.
Bumbu kuahnya terasa jauh lebih gurih berani dengan tingkat kepedasan kaya rempah yang membakar lidah secara pas. Disandingkan dengan segelas Es Campur ala Medan yang manis dingin menyegarkan, sajian ini sukses menjadi pengalaman kuliner sore yang sangat memuaskan meskipun perut tidak terlalu lapar.
Perburuan Oleh Oleh Bika Ambon Zulaikha Mengendarai Bentor
Begitu tiba di hotel, saya memilih untuk segera memisahkan diri dari rombongan guna berburu buah tangan wajib khas Medan. Mengendarai becak motor atau bentor yang menjadi sarana transportasi khas kota ini, saya meluncur menuju pusat oleh oleh Bika Ambon Zulaikha.
Namun begitu tiba di lokasi sekitar pukul 20.00 WIB, seluruh persediaan kue bika ambon telah habis terjual. Petugas toko menyarankan untuk kembali esok pagi saat gerai mulai beroperasi pukul 06.00 WIB. Pengalaman ini menegaskan betapa tersohornya kualitas bika ambon tersebut di mata para pelancong.
Kota Medan tidak pernah benar benar tidur. Di antara bising suara bentor, aroma rempah kuliner malam, dan cangkir teh tarik hangat, kota ini selalu menawarkan kehangatan persaudaraan bagi siapa pun yang singgah.
Kuliner Malam RS Elizabeth dan Kehadiran Nasi Penjara
Setibanya kembali di hotel dan menuntaskan pembersihan diri, saya kembali melangkahkan kaki menikmati sejuknya udara malam Kota Medan. Ditemani seorang sahabat yang berdomisili lokal, kami bertolak menuju pusat nongkrong favorit anak muda Medan di sepanjang Jalan Raden Saleh, tepat di depan Rumah Sakit Elizabeth.
Koridor jalan sepanjang dua ratus meter ini dipenuhi lapak penjual kuliner malam. Di tempat ini tersedia aneka minuman penghangat seperti Kopi Medan, Kopi Aceh, Teh Tarik, hingga suguhan unik yang baru pertama kali saya kenal, yakni Nasi Penjara. Nasi Penjara berupa bungkus nasi porsi kecil berisi lauk pauk yang mirip dengan konsep Nasi Kucing ala Solo dan Yogyakarta.
-
Ikon Arsitektur Sejarah: Kebanggaan arsitektur klasik di Masjid Raya Al Mashun dan keagungan Istana Maimun.
-
Kuliner Pedas Rempah: Kelezatan Sate Padang khas Medan yang kaya rempah disandingkan Es Campur Medan.
-
Sensasi Naik Bentor: Pengalaman unik melintasi sudut kota dengan becak motor berburu Bika Ambon Zulaikha.
-
Atmosfer Malam RS Elizabeth: Menikmati racikan Teh Tarik, Sate Kerang, dan Nasi Penjara hingga tengah malam.
Rangkuman Destinasi dan Kuliner Khas Medan
Berikut adalah ringkasan pesona destinasi dan ragam kuliner yang dieksplorasi selama berada di Kota Medan:
| Destinasi / Kuliner | Lokasi Area | Karakteristik & Keunikan |
|---|---|---|
| Masjid Raya Al Mashun & Istana Maimun | Pusat Kota Medan | Warisan sejarah Kesultanan Deli berarsitektur megah |
| Sate Padang & Es Campur Medan | Halaman Masjid Raya Al Mashun | Kuah pekat pedas rempah yang membakar lidah secara pas |
| Bika Ambon Zulaikha | Jl. Sekip Kota Medan | Oleh oleh legendaris bertekstur lembut yang laris manis |
| Kawasan Kuliner RS Elizabeth | Jl. Raden Saleh Medan | Pusat nongkrong malam pemuda dengan Nasi Penjara dan Teh Tarik |
Sambil menikmati segelas Teh Tarik hangat dan gurihnya Sate Kerang khas Medan, perbincangan hangat bersama kawan lama melaju hingga larut malam. Lalu lalang para pemuda Medan yang datang dan pergi meramaikan kawasan ini hingga menjelang pukul 24.00 WIB, menjadi penutup malam yang sangat menyenangkan.
Keesokan harinya pukul 05.30 WIB, saya bergegas bangun dan meluncur kembali ke gerai Bika Ambon Zulaikha guna menuntaskan pesanan oleh oleh. Rangkaian perjalanan menjelajahi Sumatra Utara pun ditutup dengan perjalanan pulang yang sehat, selamat, serta membawa sejuta kenangan manis yang tak tertandingi.
Tidak ada komentar: