Hari Kedua, 7 Maret 2011, pukul 09.00 sampai 10.30 WITA[cite: 1]. Perjalanan dilanjutkan dari Makam Pangeran Diponegoro menggunakan angkutan umum pete-pete menuju Monumen Mandala[cite: 1]. Monumen megah ini dibangun khusus untuk mengenang pembebasan Irian Barat yang dahulu masih dikuasai oleh pemerintah kolonial Belanda dalam rangkaian Operasi Trikora[cite: 1]. Rute perjalanan ditempuh dengan menaiki pete-pete menuju kawasan Lapangan Karebosi, kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki singkat untuk tiba di lokasi Monumen Mandala[cite: 1].

Monumen Mandala Makassar
Arsitektur megah Monumen Mandala di pusat Kota Makassar.
Sudut Monumen Mandala
Sudut pandang relief dan struktur bangunan monumen.
Dokumentasi Monumen Mandala
Koleksi dokumentasi sejarah di sekitar kompleks monumen.
Eksterior Monumen Mandala
Detail eksterior bangunan bersejarah di Makassar.

Sejarah Singkat Operasi Trikora dan Pembebasan Irian Barat

Operasi Trikora, yang juga dikenal sebagai kampanye Pembebasan Irian Barat, merupakan konflik selama dua tahun yang dilancarkan oleh Republik Indonesia untuk menyatukan kembali wilayah Papua bagian barat ke dalam pangkuan ibu pertiwi[cite: 1]. Tepat pada tanggal 19 Desember 1961, Presiden Soekarno mengumumkan pelaksanaan Trikora di Alun alun Utara Yogyakarta[cite: 1]. Dalam kesempatan tersebut, Presiden Soekarno membentuk Komando Mandala dan menunjuk Mayor Jenderal Soeharto sebagai panglima tertinggi[cite: 1]. Tugas utama komando ini adalah merencanakan, mempersiapkan, serta menyelenggarakan operasi militer gabungan guna mengintegrasikan Papua bagian barat dengan Indonesia[cite: 1].

Ketika Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945, wilayah kedaulatan negara mencakup seluruh bekas jajahan Hindia Belanda, termasuk wilayah barat Pulau Papua[cite: 1]. Namun, pihak kolonial Belanda bersikeras menganggap wilayah tersebut sebagai provinsi terpisah di bawah Kerajaan Belanda[cite: 1]. Pemerintah Belanda bahkan merencanakan pembentukan negara merdeka bagi Papua selambat lambatnya pada tahun 1970an[cite: 1]. Upaya diplomasi melalui Konferensi Meja Bundar pada tahun 1949 tidak mencapai kata sepakat mengenai Irian Barat, dan masalah ini disepakati untuk dirundingkan kembali dalam kurun waktu satu tahun[cite: 1].

Pada bulan Desember 1950, Perserikatan Bangsa Bangsa memutuskan bahwa Papua bagian barat memiliki hak menentukan nasib sendiri sesuai dengan Pasal 73e Piagam PBB[cite: 1]. Karena Indonesia tetap menolak klaim tersebut dan menegaskan kedaulatannya, Belanda mengundang Indonesia ke Mahkamah Internasional, namun ajakan tersebut ditolak oleh Indonesia[cite: 1]. Sebagai respons atas meningkatnya ketegangan, Belanda mempercepat program pembentukan institusi pendidikan militer dan kepolisian lokal di Papua, serta membentuk Provinsi Irian Barat pada 17 Agustus 1956 dengan ibukota di Soasiu, Pulau Tidore, dipimpin oleh gubernur pertama Sultan Zainal Abidin Sjah[cite: 1]. Penemuan cadangan emas oleh pemerintah Belanda di dekat Laut Arafura pada tahun 1959 serta masuknya perusahaan tambang pada tahun 1960 semakin memperkuat ambisi ekonomi di wilayah tersebut[cite: 1].

Diorama Sejarah Monumen Mandala
Diorama koleksi sejarah perjuangan bangsa di dalam monumen.
Koleksi Diorama Monumen Mandala
Penggambaran peristiwa heroik masa lalu melalui diorama.
Ruang Pameran Diorama
Suasana ruang pameran diorama di dalam gedung monumen.
Prasasti Pahlawan TNI
Prasasti penghormatan bagi para prajurit yang gugur.
Detail Prasasti Pahlawan
Pencatatan nama pahlawan yang gugur dalam tugas.
Prasasti Anggota TNI Yang Gugur
Monumen atau Prasasti Anggota TNI Yang Gugur atau Hilang Tercatat 215 Orang[cite: 1].

Catatan Sejarah di Monumen Mandala

Mengunjungi bagian interior Monumen Mandala memberikan pengalaman edukatif yang mendalam melalui diorama dan panji prasasti yang merangkum rangkaian peristiwa bersejarah penting dalam perjalanan bangsa Indonesia[cite: 1]:

Pameran Diorama Sejarah
Pameran koleksi diorama peristiwa penting perjuangan nasional.
Diorama Perjuangan Kemerdekaan
Visualisasi adegan perjuangan para pahlawan bangsa.
  • Kongres Rakyat Pembentukan Provinsi Irian Barat di Maluku (1955): Berdasarkan hasil Kongres Rakyat seluruh Indonesia di Jakarta pada Agustus 1955 yang dihadiri 500 utusan daerah, disepakati resolusi bahwa perjuangan pembebasan Irian Barat adalah bagian tak terpisahkan dari perjuangan nasional[cite: 1]. Sebagai tindak lanjut, dibentuk Kongres Rakyat Pembentukan Provinsi Irian Barat di Soasiu, Maluku[cite: 1]. Presiden Soekarno secara resmi mengesahkan pembentukan provinsi tersebut dan melantik Sultan Zainal Abidin Sjah sebagai gubernur pertamanya[cite: 1].
  • Pembentukan Front Nasional Pembebasan Irian Barat (17 Januari 1958): Guna merealisasikan pidato kenegaraan Presiden Soekarno bertajuk "Tahun Tantangan", ditempuh jalur di luar diplomasi[cite: 1]. Berdasarkan Surat Keputusan Peperpu No. 012/1958, dibentuklah Front Nasional Pembebasan Irian Barat (FNPIB) yang diketuai oleh KSAD Mayor Jenderal A.H. Nasution di Markas Besar Angkatan Darat Jakarta, dengan Letnan Kolonel Pamoe Rahardjo sebagai sekretaris jenderal beserta unsur Badan Kerja Sama dari berbagai golongan[cite: 1].
Dokumentasi Operasi Militer
Dokumentasi arsip operasi militer masa pembebasan.
Arsip Sejarah Trikora
Koleksi arsip dan foto bersejarah Operasi Trikora.
  • Tri Komando Rakyat (19 Desember 1961): Mengingat sikap Belanda yang menolak penyelesaian damai melalui PBB, pemerintah Indonesia mengalihkan fokus perjuangan ke bidang militer[cite: 1]. Pada 19 Desember 1961 di Alun-Alun Yogyakarta, Presiden Soekarno mengkomandokan TRIKORA dengan tiga butir utama[cite: 1]:
    1. Gagalkan pembentukan negara boneka Papua buatan Belanda[cite: 1];
    2. Kibarkan Sang Merah Putih di Irian Barat tanah air Indonesia[cite: 1];
    3. Bersiaplah untuk mobilisasi umum guna mempertahankan kemerdekaan dan kesatuan tanah air dan bangsa[cite: 1].
  • Mobilisasi Umum di Makassar (4-8 Januari 1962): Sebagai tindak lanjut Trikora, mobilisasi umum digelar di seluruh tanah air[cite: 1]. Di Makassar, rapat raksasa dilangsungkan di Lapangan Karebosi pada 4 hingga 8 Januari 1962, dihadiri oleh Presiden Soekarno, KASAD Jenderal A.H. Nasution, dan Pangdam XIV/Hasanuddin, di mana Presiden Soekarno menyerukan semboyan "Rebut Irian Barat sebelum ayam berkokok"[cite: 1].
Dokumentasi Rapat Raksasa Karebosi
Dokumentasi rapat raksasa dan mobilisasi massa di Makassar.
Dokumentasi Mobilisasi Umum
Arsip visual mobilisasi kekuatan rakyat dan pertahanan.
  • Pelantikan Panglima Mandala di Istana Bogor (13 Januari 1962): Melalui Keputusan Presiden Nomor 1/1962 tanggal 2 Januari 1962 dibentuklah Komando Mandala[cite: 1]. Presiden Soekarno menunjuk Brigadir Jenderal Soeharto, menaikkan pangkatnya menjadi Mayor Jenderal, sebagai Deputi Wilayah Indonesia Timur sekaligus Panglima Komando Mandala Pembebasan Irian Barat, yang dilantik di Istana Bogor pada 13 Januari 1962[cite: 1].
  • Pertempuran Laut Aru (15 Januari 1962): Tiga kapal Motor Torpedo Boat ALRI yakni KRI Macan Tutul, KRI Macan Kumbang, dan KRI Harimau melakukan patroli infiltrasi malam di Kepulauan Aru[cite: 1]. Posisi kapal terdeteksi oleh pesawat patroli dan kapal perang perusak (destroyer) serta fregat Belanda[cite: 1]. Dalam pertempuran laut yang tidak seimbang, KRI Macan Tutul terkena tembakan musuh, terbakar, dan tenggelam pada pukul 21.40 waktu setempat bersama Komodor Laut Yos Sudarso[cite: 1].
Diorama Pertempuran Laut Aru
Diorama peristiwa heroik Pertempuran Laut Aru.
Dokumentasi Pertempuran Laut
Visualisasi pengorbanan prajurit di medan juang maritim.
  • Panglima Mandala Menjelaskan Tugas Operasi Mandala (1962): Setelah menerima wewenang penuh, Mayjen Soeharto segera menyusun struktur Organisasi Komando Mandala yang mencakup wilayah Indonesia Timur untuk mengarahkan operasi militer Trikora, serta secara rutin memberikan pengarahan strategis kepada para perwira stafnya[cite: 1].
  • Panglima Mandala Meninjau Kekuatan Tempur di Garis Depan (1962): Kawasan Mandala ditetapkan sebagai zona pertempuran dengan komponen utama Angkatan Darat Mandala (ADLA), Angkatan Laut Mandala (ALLA), dan Angkatan Udara Mandala (AULA)[cite: 1]. Mayjen Soeharto bersama Panglima Angkatan Laut Mandala Komodor Laut R. Soedomo terjun langsung meninjau kesiapan tempur pasukan Cadangan Umum Angkatan Darat (CADUAD) di garis depan[cite: 1].
Peninjauan Garis Depan
Dokumentasi peninjauan pasukan di garis depan pertempuran.
Inspeksi Pasukan Mandala
Inspeksi kekuatan tempur Cadangan Umum Angkatan Darat.
  • Infiltrasi Pasukan Lewat Udara ke Merauke (24 Juni 1962): Dilaksanakan penerjunan pasukan di bawah Sandi Operasi Naga pimpinan Kapten L.B. Moerdani menggunakan tiga pesawat Hercules C-130 AURI[cite: 1]. Pasukan terdiri dari Tim 1 Detasemen Pasukan Khusus RPKAD sebanyak 55 personel dan Kompi 2 Yon 530/Brawijaya sebanyak 160 personel[cite: 1]. Karena pendaratan dilakukan dini hari pukul 02.00 di tengah hutan lebat berpohon tinggi, pasukan terpencar di sekitar Sungai Kombe dan Sungai Maro[cite: 1].
  • Penyerahan Irian Barat dari Belanda ke UNTEA (15 Agustus 1962): Berdasarkan Perjanjian New York pada 15 Agustus 1962, pemerintahan Irian Barat diserahkan kepada PBB melalui United Nations Temporary Executive Authority (UNTEA) selambat-lambatnya 31 Mei 1963[cite: 1]. Perjanjian ditandatangani oleh perwakilan RI dan Duta Besar Belanda untuk PBB Dr. Van Roijen[cite: 1]. Pada 31 Desember 1962, bendera Kerajaan Belanda diturunkan dan digantikan bendera PBB bersama Sang Merah Putih, menandai berakhirnya kekuasaan kolonial Belanda[cite: 1].
Penyerahan Wilayah UNTEA
Dokumentasi peralihan wilayah administrasi kepada UNTEA.
Arsip Perjanjian New York
Arsip dokumen peristiwa penting masa peralihan kekuasaan.
  • Penyerahan Irian Barat dari UNTEA ke Republik Indonesia (1 Mei 1963): Kekuasaan pemerintahan secara resmi diserahterimakan dari pihak UNTEA (diwakili Dr. Djalal Abduh) kepada Pemerintah Republik Indonesia (diwakili Mr. Sudjarwo Tjondronegoro) di Hollandia[cite: 1]. Acara ditandai dengan penurunan bendera UNTEA dan pengibaran Sang Saka Merah Putih, serta defile pasukan gabungan dan demonstrasi udara pesawat tempur AURI seperti Tu-16 KS[cite: 1].
  • Penentuan Pendapat Rakyat / Pepera (Juli 1969): Sesuai butir persetujuan New York, Indonesia memberikan kesempatan bagi rakyat Irian Barat untuk menyatakan pendapat secara bebas selambat-lambatnya tujuh tahun setelah pemerintahan berada di tangan Indonesia dengan pendampingan PBB, yang akhirnya sukses diselenggarakan pada bulan Juli 1969[cite: 1].
Dokumentasi Pepera Irian Barat
Dokumentasi pelaksanaan Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera).
Arsip Pepera Irian Barat
Arsip sejarah proses integrasi wilayah Papua ke Indonesia.

Catatan Sejarah Makassar di Monumen Mandala

Selain merekam sejarah Trikora, Monumen Mandala juga mengabadikan lembaran sejarah kepahlawanan lokal Sulawesi Selatan dalam menentang penjajahan[cite: 1]:

Sejarah Kepahlawanan Makassar
Ruang pameran kisah kepahlawanan rakyat Sulawesi Selatan.
Diorama Perang Makassar
Diorama pertempuran gigih melawan armada kolonial.
  • Perang Makassar melawan Belanda di bawah Pimpinan Sultan Hasanuddin (1666-1669): Pertempuran sengit memperebutkan Benteng Somba Opu pusat Kerajaan Gowa terjadi pada tahun 1668[cite: 1]. Pihak Belanda kehilangan Kapten David Steiger, dua sekoci, sebuah kapal perang, serta sekitar 180 prajurit[cite: 1]. Rakyat Gowa dipimpin Sultan Hasanuddin menghadapi pasukan kolonial di bawah Speelman[cite: 1]. Meskipun Benteng Somba Opu jatuh pada 24 Juni 1669, keberanian luar biasa Sultan Hasanuddin membuat Belanda menjulukinya sebagai "De Haen van het Oosten" atau Ayam Jantan dari Benua Timur[cite: 1].
Perang Gowa Sultan Hasanuddin
Visualisasi pertempuran Kesultanan Gowa mempertahankan wilayah.
Dokumentasi Perang Gowa
Arsip diorama perlawanan heroik di Benteng Somba Opu.
  • Perlawanan Rakyat Wajo terhadap Belanda di bawah Pimpinan La Maddukelleng (1736-1741): Menghadapi ekspedisi penaklukan Wajo oleh Gubernur Admiral Smout yang berangkat dari Cenrana menyusuri Sungai Topace'do dan mendarat di Tonrange untuk menyerang Tosara, Arung Matowa Wajo La Maddukelleng melancarkan serangan balasan mendadak pada 3 Maret 1741[cite: 1]. Serangan tersebut memporak-porandakan kedudukan Belanda, merampas meriam, menewaskan 100 prajurit Belanda berjuluk Paccillocillo (pemakai topi), hingga memaksa Gubernur Admiral Smout menarik mundur pasukannya ke Makassar pada 21 April 1741[cite: 1].
Perlawanan La Maddukelleng
Diorama perlawanan rakyat Wajo di bawah La Maddukelleng.
Detail Diorama Perlawanan Wajo
Penggambaran pertempuran sengit di tepi Sungai Topace'do.
  • Perlawanan Rakyat Mandar di bawah Pimpinan Maradia Tokape (1890): Dalam upaya menguasai pusat perdagangan kopra di Sulawesi Selatan, Belanda menghadapi perlawanan gigih dari Kerajaan Balanipa di Mandar di bawah pimpinan Maradia Tokape yang menolak ajakan kerja sama kolonial[cite: 1]. Meskipun istana dipertahankan dengan sengit dalam menghadang pendaratan pasukan Belanda di Majene, Maradia Tokape akhirnya tertangkap, diasingkan ke Jakarta, dan dibuang ke Pacitan, Jawa Timur[cite: 1].
  • Perlawanan Rakyat Bone di bawah Pimpinan Raja La Pawawoi Karaeng Segeri (1905): Kerajaan Bone di bawah pemerintahan Raja Bone ke-31 La Pawawoi Karaeng Segeri gigih menentang Ekspedisi Bone (Bonische Expedition) yang dilancarkan Belanda[cite: 1]. Di usia lanjut (80 tahun), ia memimpin perang gerilya secara berpindah-pindah ditandu dari Watampone hingga Sidenreng bersama putranya Petta Punggawa[cite: 1]. Setelah putranya gugur dalam pertempuran di Batu, Sidenreng, Karaeng Segeri tertangkap, diasingkan ke Bandung lalu Jakarta, hingga wafat pada 17 Januari 1911[cite: 1].
Perlawanan Rakyat Bone
Diorama perlawanan heroik Kerajaan Bone terhadap Ekspedisi Belanda.
Arsip Perlawanan Raja Bone
Visualisasi perjuangan Raja La Pawawoi Karaeng Segeri.
  • Perlawanan Rakyat Tana Toraja di bawah Pimpinan Pong Tiku (1906): Mengusung prinsip "Moka Ulungku, Moka Lettekku Naparenta To Buta" (Kaki dan tanganku tak mau dijajah oleh orang buta/Belanda), Pong Tiku menolak tunduk dan memimpin perang gerilya dari Desa Ledan, Gunung Kado, Rinding Allo, hingga Lali'londong[cite: 1]. Setelah disergap di Gua Batu akibat pengkhianatan pada 7 Juli 1907 dan dibawa ke Rantepao, tiga hari kemudian pada 10 Juli 1907 Pong Tiku dieksekusi tembak mati oleh Belanda di tepi Sungai Sa'dang[cite: 1].
  • Perlawanan Rakyat dipimpin Andi Jemma di Palopo (23 Januari 1946): Peristiwa heroik di Palopo dipicu oleh kedatangan pasukan NICA bersama tentara Australia, serta kemarahan rakyat akibat tindakan serdadu KNIL yang mengotori Masjid Bua dengan sepatu, menghina Al-Quran, dan menembaki masjid[cite: 1]. Setelah ultimatum diabaikan, Datu Luwu Andi Jemma memerintahkan penyerangan serentak yang memukul mundur pasukan asing dari barak-barak mereka[cite: 1].

Monumen Mandala menyimpan saksi bisu sejarah agung, mulai dari pekik Trikora pembebasan Irian Barat hingga tetesan darah para pahlawan nusantara yang gigih mempertahankan kedaulatan Ibu Pertiwi.

✦ Catatan Perjalanan Bersejarah
Menelusuri diorama dan koleksi historis di Monumen Mandala memberikan pemahaman mendalam bahwa kemerdekaan Indonesia ditebus melalui pengorbanan jiwa dan raga dari berbagai penjuru tanah air, dari Sabang sampai Merauke.