Sambungan dari: "Secuil Cerita di Pulau Tidung"

Setelah cukup beristirahat, menikmati makan siang, serta berpose ria bersama seluruh anggota rombongan di Rumah 3 dengan kekuatan penuh, petualangan pun berlanjut ke agenda yang paling ditunggu-tunggu: snorkeling!

Berpose ria kekuatan penuh di Rumah 3

Seluruh rangkaian kegiatan seru ini sudah dikemas dalam satu paket hemat seharga Rp260.000,00 per orang. Biaya tersebut sudah mencakup fasilitas makan 3 kali (siang, malam, pagi), transportasi pulang-pergi Muara Angke - Tidung (Rp35.000,00 per orang sekali jalan), sewa perlengkapan snorkeling (Rp35.000,00), sewa sepeda selama 2 hari (masing-masing Rp15.000,00 per hari), homestay (antara Rp400.000,00 - Rp500.000,00 per hari), serta sewa kapal boat untuk keperluan snorkeling sebesar Rp400.000,00 per hari.

Menjelajah Keindahan Bawah Laut Pulau Payung

Sesi persiapan perlengkapan snorkeling dimulai dengan memilih ukuran sepatu katak dan peralatan menyelam yang pas di kaki. Setelah setiap anggota rombongan mendapatkan perlengkapan lengkap, tepat pukul 14.00 WIB kapal meluncur menuju kawasan terumbu karang di perairan lepas Pulau Payung Kecil.

Dipilih-pilih untuk nomor sepatu katak dan perlengkapan untuk snorkeling

Tiada bosan-bosannya untuk mengabadikan Jembatan Cinta Pulau Tidung

Sayangnya, kondisi terumbu karang di titik pertama ini kurang begitu bagus; populasinya ikan terlihat sedikit dan banyak karang yang rusak, diperparah oleh kapal perahu yang membuang jangkar sembarangan. Mengingat ombak bawah air yang cukup deras, atas kesepakatan bersama pembimbing dan kapten kapal, kami berpindah lokasi ke perairan Pulau Payung Besar. Di sini, pemandangan bawah lautnya jauh lebih indah dengan beragam ikan hias berukuran cukup besar yang berenang bebas, membuat kami betah berlama-lama menyelam.

Snorkeling di area Pulau Payung

Puas berenang, perjalanan dilanjutkan singgah ke daratan Pulau Payung untuk melepas lelah. Di pulau ini terdapat fasilitas sumur, toilet untuk berbilas, serta warung-warung lokal yang menjajakan mi rebus, bakso, gorengan, dan es kelapa muda segar.

Suasana Pulau Payung Besar, warung makan/jajanan, tugu selamat datang, toilet dan air untuk berbilas, serta mercusuar.

Berburu Senja di Jembatan Cinta

Menjelang sore, rombongan bertolak kembali ke Pulau Tidung. Sebagian besar anggota langsung mengayuh sepeda menuju Jembatan Cinta karena khawatir terlewat momen matahari terbenam. Sementara itu, saya memilih pulang terlebih dahulu ke homestay untuk mandi dan menunaikan Sholat Ashar agar tubuh kembali segar. Setibanya di Jembatan Cinta sesudahnya, meski langit sore tampak berawan dan matahari tertutup awan, keindahan senja di tempat ini tetap memancarkan pesona tersendiri.

Jembatan Cinta kala senja hari

Malam Keakraban: Barbeque dan Organ Tunggal

Malam hari menyelimuti Pulau Tidung seiring tibanya waktu Maghrib. Setelah kembali ke homestay dan beristirahat sejenak, sekitar pukul 20.00 WIB acara makan malam penutup hari dimulai. Menu sederhana berupa ikan kembung bakar bumbu kecap, kentang goreng pedas, dan tahu goreng pedas terasa sangat nikmat dinikmati dalam kebersamaan.

Makan malam ala barbeque

Suasana malam minggu di Pulau Tidung semakin meriah berkat hiburan organ tunggal yang diselenggarakan tepat di depan Kantor Kelurahan Pulau Tidung. Siapa saja bebas menyumbangkan suara dan lagu untuk menghibur para wisatawan yang memadati area tersebut.

Organ Tunggal Pulau Tidung
Organ tunggal yang cukup menghibur

Menyongsong Matahari Terbit di Pagi Hari

Setelah seharian penuh beraktivitas yang menguras energi, malam pun dihabiskan dengan beristirahat pulas di homestay. Pagi harinya, saya bangun lebih awal demi berburu keindahan matahari terbit (sunrise) kembali di Jembatan Cinta. Benar-benar momen liburan di Pulau Tidung yang tidak disia-siakan sedetik pun.

Keindahan Ciptaan Yang Maha Pencipta, Mentari Terbit di Pulau Tidung

Sembburat fajar pagi di Jembatan Cinta menyempurnakan rangkaian petualangan seru dan berkesan di Pulau Tidung.

✦ Artikel Terkait & Kelanjutan Cerita