Pukul 11.45 WIB, setelah menempuh perjalanan laut sekitar satu jam dari Pulau Peucang, perahu kayu kami akhirnya merapat di pesisir Kawasan Cibom. Pendaratan di Cibom menjadi pertanda dimulainya fase eksplorasi darat di Semenanjung Taman Nasional Ujung Kulon, tempat perkemahan utama disiapkan oleh rombongan Banten Backpacker.

Pendaratan di Cibom & Jejak Sejarah Internasional

Cibom merupakan area favorit bagi para petualang dan wisatawan untuk mendirikan tenda. Di balik pesona alaminya, Cibom menyimpan rekam jejak sejarah yang panjang sebagai sisa-sisa peninggalan megaproyek pembangunan dermaga internasional pada zaman kolonial Belanda.

Suasana Pantai Cibom & Penunjuk Arah Jalur Trekking

Deretan pepohonan kelapa dan vegetasi hutan pantai menyambut riak gelombang laut di Pantai Cibom. Di persimpangan jalan setapak, berdiri kokoh papan penunjuk arah kayu buatan pengelola taman nasional yang mengarahkan langkah para pejalan menuju pos mercusuar, Tanjung Layar, hingga jalur pengamatan satwa.

Dinamika Mendirikan Tenda & Kebersamaan Makan Siang

Begitu seluruh personel dan perlengkapan berhasil diturunkan ke darat, langkah berikutnya adalah membuka perkemahan. Proses ini diwarnai berbagai momen seru dan tantangan khas alam terbuka.

Keseruan & Tantangan Mendirikan Tenda di Lapangan

Aktivitas mendirikan tenda berlangsung riuh. Beberapa kelompok dengan cekatan memasang pasak, namun tak jarang ada tim yang harus bersusah payah karena menemukan rangka besi penyangga tenda yang melengkung atau rusak. Pengalaman ini menjadi pelajaran berharga betapa pentingnya pengecekan alat sebelum berangkat—selebihnya adalah seni menikmati dinamika lapangan!

Makan Siang Bersama & Solusi Praktis Perjalanan

Usai deretan tenda berdiri rapi, acara makan siang bersama pun digelar secara lesehan di atas matras. Untuk efisiensi waktu, menu makan siang kali ini telah disiapkan dan dibungkus sejak dari Kecamatan Sumur. Keputusan praktis ini terbukti tepat karena jika harus memasak terlebih dahulu, perut yang lapar tentu tak sanggup menunggu lebih lama.

Santai Sejenak Bersama Penjaga Mercusuar Cibom

Seusai santap siang, para anggota rombongan duduk santai di pelataran gubuk kayu sembari berbincang hangat dengan penjaga mercusuar Cibom. Lewat cerita dan keramahan beliau, kawan-kawan mendapatkan banyak wawasan lokal seputar dinamika cuaca laut, navigasi kapal, serta sejarah kawasan.

Trekking Menembus Hutan Tropis Menuju Tanjung Layar

Pukul 14.40 WIB, setelah kondisi fisik kembali bugar usai beristirahat, rombongan Banten Backpacker bersiap memulai perjalanan jalan kaki (trekking) menembus rimbunnya hutan tropis menuju situs bersejarah Tanjung Layar.

Gerbang Alam Akar Pohon Raksasa Berusia Ratusan Tahun

Perjalanan darat menuju Tanjung Layar memakan waktu sekitar 45 menit. Jalur setapak ini menyuguhkan pemandangan menakjubkan berupa pohon-pohon purba yang diperkirakan berumur puluhan hingga ratusan tahun. Salah satu pohon raksasa memiliki banir dan akar gantung yang begitu tebal menutupi jalur. Oleh petugas taman nasional, sebagian akar yang melintang dipotong rapi hingga membentuk semacam gerbang alam alami yang memukau bagi siapapun yang melintasinya.

Kompleks Mercusuar Navigasi Generasi Ketiga

Di tengah kerindangan vegetasi menuju Tanjung Layar, berdiri menara mercusuar modern yang berfungsi aktif sebagai panduan navigasi pelayaran kapal-kapal yang melintasi Selat Sunda. Menara ini merupakan generasi ketiga dalam sejarah navigasi pelayaran di Ujung Kulon.

Situs Peninggalan Menara Mercusuar Belanda Generasi Kedua

Tak jauh dari menara modern, terdapat kompleks bangunan cagar budaya berupa reruntuhan menara mercusuar generasi kedua peninggalan masa kolonial Belanda. Walau struktur fisiknya telah rusak termakan usia dan tak lagi difungsikan, sisa-sisa dinding bata dan struktur fondasinya tetap berdiri bisu merekam jejak sejarah kemaritiman masa lalu.

Tiba di Tanjung Layar

Tepat pukul 15.30 WIB, rombongan Banten Backpacker akhirnya tiba di kawasan Tanjung Layar. Suara deburan ombak Samudra Hindia yang menggelegar dan bentangan karang tebing yang megah siap menyambut petualangan selanjutnya.

Menjelajahi Cibom dan Tanjung Layar adalah perjalanan menyusuri lorong waktu. Di antara akar pohon purba dan mercusuar tua, kita menyaksikan bagaimana alam dan sejarah berkelindan dalam keagungan Ujung Kulon.

• • •
M
Massaputro Delly TP
Penjelajah mandiri, penggiat literasi outdoor, dan penulis perjalanan yang aktif membagikan panduan teknis, tips survival, serta catatan eksplorasi alam terbuka di Indonesia.
Expedition Leader Travel Writer